BBM Disebut Aman, Fakta Antrean Mengular: AWI Soroti Dugaan Kinerja Operasional Pertamina Tak Terprogram”

Pontianak, Kalimantan Barat — Kondisi bahan bakar minyak (BBM) yang diklaim “aman” oleh Pertamina justru berbanding terbalik dengan realita di lapangan. Dalam beberapa hari terakhir, antrean panjang mengular di sejumlah SPBU di Kota Pontianak, bahkan hingga menyebabkan kemacetan dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Aliansi Wartawan Indonesia (AWI) Kota Pontianak menilai, situasi ini kuat diduga akibat kinerja operasional distribusi BBM yang tidak terprogram dengan baik. Jika distribusi benar-benar direncanakan secara matang, kejadian antrean panjang hingga berhari-hari dinilai mustahil terjadi—terlebih di momentum krusial seperti bulan suci Ramadan dan menjelang Idul Fitri.
“Ini bukan sekadar lonjakan konsumsi biasa. Kalau sistem distribusi berjalan normal dan terencana, tidak mungkin terjadi antrean panjang sampai dua hari, bahkan ada warga yang rela menginap demi mendapatkan BBM,” tegas perwakilan AWI.

AWI juga menyoroti adanya kejanggalan di tingkat SPBU. Dalam kondisi normal, distribusi BBM per SPBU berkisar sekitar 5 tangki per hari. Namun dalam situasi krisis seperti saat ini, diduga terjadi peningkatan kuota hingga dua kali lipat, yang berpotensi mendongkrak volume penjualan secara signifikan.

“Di satu sisi masyarakat kesulitan, di sisi lain ada potensi keuntungan besar di tingkat SPBU. Ini harus dijelaskan secara transparan oleh pihak terkait,” lanjutnya.

Lebih lanjut, AWI mempertanyakan mengapa fenomena antrean panjang ini terkesan hanya terjadi di wilayah Kalimantan Barat, sementara di provinsi lain kondisi distribusi BBM dilaporkan relatif normal dan terkendali.
“Kenapa hanya di Kalbar? Ini yang perlu dijawab. Jangan sampai publik menilai ada persoalan serius dalam tata kelola distribusi di daerah ini,” tambah AWI.

Di tengah situasi yang semakin meresahkan, masyarakat Kota Pontianak secara tegas meminta Pertamina untuk segera memberikan penjelasan resmi kepada publik terkait kelangkaan BBM yang terjadi. Permintaan tersebut mencakup agar Pertamina menggelar konferensi pers secara online yang dapat diakses luas oleh masyarakat, guna membuka secara transparan penyebab gangguan distribusi, mekanisme penyaluran, serta langkah konkret yang telah dan akan dilakukan.

“Jangan hanya menyampaikan BBM aman di atas kertas. Kami butuh penjelasan langsung, terbuka, dan resmi dari Pertamina. Kalau perlu, lakukan konferensi pers online supaya publik tahu apa yang sebenarnya terjadi,” ujar salah satu warga yang ikut mengantre.
Hingga saat ini, kondisi di lapangan masih menunjukkan antrean kendaraan yang mengular di berbagai SPBU, memicu keresahan masyarakat yang membutuhkan kepastian pasokan, terutama menjelang arus mudik dan perayaan Idul Fitri.

AWI mendesak Pertamina serta pihak terkait untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh, memastikan distribusi BBM berjalan normal, serta tidak menunda memberikan penjelasan resmi kepada publik demi meredam keresahan yang terus meluas.(Arifin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *