Hulawa, Pohuwato – 01 Januari 2026
Rakyat Hulawa hari ini tidak butuh basa-basi.
Kami berbicara dengan amarah yang sah, karena rumah kami digenangi lumpur, sementara di atas penderitaan itu ada pesta yang diduga berlangsung di Pani Gold Mine.
Air bah menerjang Desa Hulawa, datang dari arah wilayah tambang.
Bukan sekali. Bukan kebetulan.
Ini pola, dan rakyat mencatatnya dengan ingatan luka.
Namun apa yang publik lihat pada malam pergantian tahun 2025–2026?
PESTA. MUSIK. TAWA. PERAYAAN.
Terekam jelas, viral, dan tak terbantahkan.
Saat rakyat Hulawa berjibaku menyelamatkan keluarga dan harta benda, Pani Gold Mine justru bersulang menyambut tahun baru.
Ini bukan sekadar tidak etis.
Ini penghinaan terbuka terhadap penderitaan rakyat lingkar tambang.
Pada saat yang sama:
Forkopimda Pohuwato berdoa dan berzikir, memohon agar bencana dihentikan.
Rakyat berlutut di lumpur, bukan di ruang pesta.
Kontras ini adalah tamparan keras bagi akal sehat.
Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Limonu Hippy, dengan tegas menyuarakan apa yang rakyat rasakan:
“Lingkar tambang dilanda bencana, Pani Gold Mine justru berpesta pora.”
Itu bukan sekadar kritik.
Itu vonis moral dari publik.
Lebih memuakkan lagi, hingga hari ini: Tidak ada klarifikasi terbuka
Tidak ada permintaan maaf
Tidak ada empati
Pani Gold Mine memilih DIAM.
Kami tegaskan: Diam di tengah bencana adalah keberpihakan.
Dan hari ini, diam berarti tidak berpihak pada rakyat Hulawa.
MAKA DENGAN SUARA TERBUKA DAN TEKANAN PUBLIK, KAMI MENUNTUT:
PANI GOLD MINE HENTIKAN SEGALA BENTUK PESTA DAN AKTIVITAS SEREMONIAL SAAT RAKYAT TERDAMPAK BENCANA.
BUKA DATA LINGKUNGAN DAN AKUI DAMPAK AKTIVITAS TAMBANG TERHADAP HULAWA.
AUDIT LINGKUNGAN INDEPENDEN — BUKAN AUDIT PESANAN.
GUBERNUR GORONTALO, KLHK, DAN KEMENTERIAN ESDM WAJIB TURUN KE LOKASI.
PULIHKAN KERUGIAN WARGA — JANGAN JADIKAN CSR SEBAGAI TOPENG KEJAHATAN EKOLOGI.
Kami ingatkan:
Kesabaran rakyat ada batasnya.
Empati bukan pilihan, tapi kewajiban.
Tambang boleh beroperasi, tapi tidak boleh mengubur nurani.
Jika suara ini diabaikan,
maka rakyat akan terus bersuara, lebih keras, lebih luas, dan lebih terorganisir.
HULAWA BUKAN TUMPAHAN LIMBAH.
POHUWATO BUKAN KOLONI TAMBANG.
DAN RAKYAT BUKAN KORBAN YANG HARUS DIAM.
Ini peringatan terbuka.
Ini tekanan publik.
Dan ini belum berakhir.






